Harga BUKU IMPOR adalah harga kurs/shipping cost saat pasang, dapat berubah tanpa pemberitahuan.
Harga Produk selain Buku dibawah Rp20,000 minimal pemesanan 2 pcs y :)
![]() |
|
Sinopsis:
“Nuansa cerita, padatnya ide yang diusung, nilai yang dikandung, tak mencerminkan mudanya usia sang pengarang. Benar kata orang bijak, bahwa kedewasaan berpikir tidak berbanding lurus dengan usia, Intan telah membuktikannya.”
- Dermawan Wibisono, mantan Dekan Sekolah Bisnis Manajemen ITB, penulis novel Gading-Gading Ganesha dan Menggapai Matahari.
Dua anak kembar. Tidak identik. Bertolak belakang. Berbagi pengalaman. Berbeda sudut pandang.
Dari salah satu sudut kota Yogyakarta, sebuah cerita pun bermula. Aku, mungkin gadis yang sedang beranjak dewasa, dengan tulisanku, aku menuangkan rasa mengenai kehidupan ini, dengan sikap tak acuhku, aku tak pernah ambil pusing dengan skeptisisme adik kembarku.
Dartha adik kembarku, seorang anak lelaki yang tak terlalu banyak mengumbar kata, dengan gurat lukisannya, dia mengabadikan waktu. Kami, dua anak remaja dengan sepaket kehidupan wajar.
Dan ketika malam semakin lanjut usia, waktu tak mampu memperlambat datangnya bencana kala itu. Layang-layang pada langit kami pun tak lagi ada, Yogyakarta kini hanya sepotong kenangan usang yang pahit untuk dikenang. Namun hidup terus berjalan, dan masih banyak mimpi yang menunggu untuk kami wujudkan, dengan ataupun tanpa Yogyakarta kami yang dulu..
“Nuansa cerita, padatnya ide yang diusung, nilai yang dikandung, tak mencerminkan mudanya usia sang pengarang. Benar kata orang bijak, bahwa kedewasaan berpikir tidak berbanding lurus dengan usia, Intan telah membuktikannya.”
- Dermawan Wibisono, mantan Dekan Sekolah Bisnis Manajemen ITB, penulis novel Gading-Gading Ganesha dan Menggapai Matahari.
Dua anak kembar. Tidak identik. Bertolak belakang. Berbagi pengalaman. Berbeda sudut pandang.
Dari salah satu sudut kota Yogyakarta, sebuah cerita pun bermula. Aku, mungkin gadis yang sedang beranjak dewasa, dengan tulisanku, aku menuangkan rasa mengenai kehidupan ini, dengan sikap tak acuhku, aku tak pernah ambil pusing dengan skeptisisme adik kembarku.
Dartha adik kembarku, seorang anak lelaki yang tak terlalu banyak mengumbar kata, dengan gurat lukisannya, dia mengabadikan waktu. Kami, dua anak remaja dengan sepaket kehidupan wajar.
Dan ketika malam semakin lanjut usia, waktu tak mampu memperlambat datangnya bencana kala itu. Layang-layang pada langit kami pun tak lagi ada, Yogyakarta kini hanya sepotong kenangan usang yang pahit untuk dikenang. Namun hidup terus berjalan, dan masih banyak mimpi yang menunggu untuk kami wujudkan, dengan ataupun tanpa Yogyakarta kami yang dulu..
Sebelum pesan baca dulu http://www.mantapmart.id/p/cara-berlangganan.html biar gk ada miskom y :)











0 komentar:
Posting Komentar