Harga BUKU IMPOR adalah harga kurs/shipping cost saat pasang, dapat berubah tanpa pemberitahuan.
Harga Produk selain Buku dibawah Rp20,000 minimal pemesanan 2 pcs y :)
![]() |
|
Sinopsis:
Sampai hari ini, tak satu pun tafsir yang menjelaskan makna alif lâm mîm, alif lâm râ atau beberapa ayat serupa. Bahkan, pembahasan ayat-ayat mutasyâbihât tersebut nyaris tak pernah luput dari konflik-konflik pertentangan. Mempelajarinya dianggap sebagai suatu hal yang sangat tabu. Lalu pertanyaannya, untuk apa ayat-ayat mutasyâbihât itu difirmankan?
Jika ayat-ayat muhkamât telah banyak melahirkan berbagai macam keilmuan, dari bidang mu'amalat, syari'at, gramatik, konjungsi, hingga sejarah dan keilmuan yang lainnya, mengapa ayat-ayat mutasyâbihât seolah terabaikan begitu saja?
Buku ini menguak sebagian misteri ayat-ayat mutasyâbihât secara mengagumkan. Beberapa temuannya juga cukup mengejutkan, dan dapat menambah keyakinan kita terhadap Al-Quran.
Prof. Dr. Nasaruddin Umar
Dari masa Rasulullah saw. hingga saat ini, banyak upaya yang dilakukan umat Islam dalam memahami Al-Quran. Jutaan kitab tafsir dan ilmu-ilmu pendukung dalam memahami Al-Quran telah ditulis oleh para ulama, dan telah menghiasi berbagai perpustakaan dan koleksi pribadi. Para penulis dari berbagai latar belakang pendidikan dan disiplin ilmu turut memeriahkan perkembangan studi-studi Al-Quran. Bahkan, belakangan ini, kalangan non-Muslim pun berupaya menghidangkan pesan-pesan Tuhan bagi umat manusia melalui kajian mereka atas Al-Quran. Mungkin ini yang menjadi bukti kebenaran Al-Quran ketika Allah berfirman, Katakanlah, seandainya laut menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, pasti laut itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhanku habis, walaupun Kami datangkan sebanyak itu lagi (QS Al-Kahfi [18]: 109).
Niat, maksud, tujuan, dan kecenderungan mereka dalam memahami Al-Quran tentu beragam. Namun, para ulama telah memberikan wejangan, nasihat, masukan tentang bagaimana bergaul dan berakhlak terhadap Al-Quran. Yang pertama dan terpenting adalah ketika menghadapi Al-Quran kita dituntut untuk bersikap tawadhu‘, rendah hati, dan menghormati Al-Quran. Kita tidak diperbolehkan angkuh dan sombong, sehingga tidak merasa perlu lagi belajar, menggali pemahaman atas pesan-pesan Allah dalam Al-Quran.
Mari mengambil sebuah perumpamaan: Seorang sahabat sejati tidak akan menyembunyikan rahasia apa pun bagi sahabatnya. Karenanya, persahabatan dengan Al-Quran menjadi tuntutan bagi para mufasir atau pengkaji tafsir. Banyak ulama yang berpesan, “jika Anda ingin berbicara dengan Allah maka berdoalah. Dan jika Anda inginkan Allah yang berbicara maka baca dan teliti Al-Quran. Bersahabatlah dengan Al-Quran” (Shihab 2013: 23). Untuk menjadi sahabat, siapa pun dituntut untuk selalu berlapang dada, bersikap tulus, dan rendah hati. Kerendah-hatian itu terwujud dalam sikap yang tidak merasa tahu segalanya, apalagi bersikap angkuh merasa semuanya dapat dijangkau oleh akal dan nalar. Pengakuan malaikat dalam Al-Quran tentang kelemahan mereka, patut diteladani:
Mahasuci Engkau! Tidak ada ilmu bagi kami, kecuali yang telah Engkau ajarkan pada kami …. (QS Al-Baqarah [2]: 32)
Ulama juga mengajarkan, bahwa ketika kita sampai pada titik jenuh, di mana kita tidak dapat mencerna sebuah makna ayat maka kita perlu berhenti sejenak, ber-tawaqquf dari upaya itu, sehingga kita terhindar dari pemaksaan makna akibat ketergesa-gesaan. Allah telah mencontohkan bagaimana Nabi Musa a.s. mesti banyak belajar lagi setelah berinteraksi dengan Khidr. Keangkuhan dalam memahami ayat-ayat Allah hanya akan menyisakan keadaan di mana Allah dan Al-Quran akan meninggalkan kita:
Akan Ku-palingkan dari (menangkap esensi) ayat-ayat-Ku, orang-orang yang angkuh di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan. (QS Al-A‘raf [7]: 146)
Muhkamât dan mutasyâbihat merupakan salah satu konsep penting dalam memahami Al-Quran. Keduanya adalah bagian ‘Ulûm Al-Qur’ân yang sangat menarik, karena hingga saat ini, ulama tampaknya tidak dapat menyepakati secara pasti pengertiannya. Wacana ini berawal dari pernyataan Allah sendiri bahwa ayat-ayat Al-Quran itu muhkamât, dan sebagian lagi mutasyâbihat (QS Âli ‘Imran [3]: 7). Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan dan Al-Suyuthi dalam Al-Itqan misalnya membahas ‘Ilm Al-Mutasyabih, tetapi kajiannya terbatas pada fashilat atau ayat-ayat penutup yang berbeda-beda padahal kisah yang diuraikan sama. Perbedaan makna mutasyâbihat, misalnya juga sangat mencolok bagi mufasir dan ulama Ushul Fiqih. Bagi kebanyakan ahli Ushul Fiqih, makna ayat-ayat mutasyâbihat sering dipadankan dengan makna ayat yang sifatnya tidak qath‘i. Dari perbedaan kecil ini, cakupan makna mutasyâbihat dapat lebih diminimalisasi menjadi ayat-ayat yang samar (tidak qath‘i) maknanya.
Apa pun makna di balik kedua istilah ini, yang terpenting dari semuanya adalah sebuah pesan, bahwa setiap penafsir mesti berhati-hati, mengingat Allah tidak menentukan mana yang muhkamât dan mana yang mutasyâbihat. Kondisi ini meniscayakan bahwa sebuah ayat dapat saja muhkamât bagi sekelompok ulama, dan mutasyâbihat bagi ulama lainnya, atau sebaliknya. Selain itu, ayat-ayat mutasyâbihat juga ingin menunjukkan kelemahan dan keterbatasan pengetahuan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Wa ma utitum min al-‘ilmillaqalila ….
Sampai hari ini, tak satu pun tafsir yang menjelaskan makna alif lâm mîm, alif lâm râ atau beberapa ayat serupa. Bahkan, pembahasan ayat-ayat mutasyâbihât tersebut nyaris tak pernah luput dari konflik-konflik pertentangan. Mempelajarinya dianggap sebagai suatu hal yang sangat tabu. Lalu pertanyaannya, untuk apa ayat-ayat mutasyâbihât itu difirmankan?
Jika ayat-ayat muhkamât telah banyak melahirkan berbagai macam keilmuan, dari bidang mu'amalat, syari'at, gramatik, konjungsi, hingga sejarah dan keilmuan yang lainnya, mengapa ayat-ayat mutasyâbihât seolah terabaikan begitu saja?
Buku ini menguak sebagian misteri ayat-ayat mutasyâbihât secara mengagumkan. Beberapa temuannya juga cukup mengejutkan, dan dapat menambah keyakinan kita terhadap Al-Quran.
Prof. Dr. Nasaruddin Umar
Dari masa Rasulullah saw. hingga saat ini, banyak upaya yang dilakukan umat Islam dalam memahami Al-Quran. Jutaan kitab tafsir dan ilmu-ilmu pendukung dalam memahami Al-Quran telah ditulis oleh para ulama, dan telah menghiasi berbagai perpustakaan dan koleksi pribadi. Para penulis dari berbagai latar belakang pendidikan dan disiplin ilmu turut memeriahkan perkembangan studi-studi Al-Quran. Bahkan, belakangan ini, kalangan non-Muslim pun berupaya menghidangkan pesan-pesan Tuhan bagi umat manusia melalui kajian mereka atas Al-Quran. Mungkin ini yang menjadi bukti kebenaran Al-Quran ketika Allah berfirman, Katakanlah, seandainya laut menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, pasti laut itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhanku habis, walaupun Kami datangkan sebanyak itu lagi (QS Al-Kahfi [18]: 109).
Niat, maksud, tujuan, dan kecenderungan mereka dalam memahami Al-Quran tentu beragam. Namun, para ulama telah memberikan wejangan, nasihat, masukan tentang bagaimana bergaul dan berakhlak terhadap Al-Quran. Yang pertama dan terpenting adalah ketika menghadapi Al-Quran kita dituntut untuk bersikap tawadhu‘, rendah hati, dan menghormati Al-Quran. Kita tidak diperbolehkan angkuh dan sombong, sehingga tidak merasa perlu lagi belajar, menggali pemahaman atas pesan-pesan Allah dalam Al-Quran.
Mari mengambil sebuah perumpamaan: Seorang sahabat sejati tidak akan menyembunyikan rahasia apa pun bagi sahabatnya. Karenanya, persahabatan dengan Al-Quran menjadi tuntutan bagi para mufasir atau pengkaji tafsir. Banyak ulama yang berpesan, “jika Anda ingin berbicara dengan Allah maka berdoalah. Dan jika Anda inginkan Allah yang berbicara maka baca dan teliti Al-Quran. Bersahabatlah dengan Al-Quran” (Shihab 2013: 23). Untuk menjadi sahabat, siapa pun dituntut untuk selalu berlapang dada, bersikap tulus, dan rendah hati. Kerendah-hatian itu terwujud dalam sikap yang tidak merasa tahu segalanya, apalagi bersikap angkuh merasa semuanya dapat dijangkau oleh akal dan nalar. Pengakuan malaikat dalam Al-Quran tentang kelemahan mereka, patut diteladani:
Mahasuci Engkau! Tidak ada ilmu bagi kami, kecuali yang telah Engkau ajarkan pada kami …. (QS Al-Baqarah [2]: 32)
Ulama juga mengajarkan, bahwa ketika kita sampai pada titik jenuh, di mana kita tidak dapat mencerna sebuah makna ayat maka kita perlu berhenti sejenak, ber-tawaqquf dari upaya itu, sehingga kita terhindar dari pemaksaan makna akibat ketergesa-gesaan. Allah telah mencontohkan bagaimana Nabi Musa a.s. mesti banyak belajar lagi setelah berinteraksi dengan Khidr. Keangkuhan dalam memahami ayat-ayat Allah hanya akan menyisakan keadaan di mana Allah dan Al-Quran akan meninggalkan kita:
Akan Ku-palingkan dari (menangkap esensi) ayat-ayat-Ku, orang-orang yang angkuh di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan. (QS Al-A‘raf [7]: 146)
Muhkamât dan mutasyâbihat merupakan salah satu konsep penting dalam memahami Al-Quran. Keduanya adalah bagian ‘Ulûm Al-Qur’ân yang sangat menarik, karena hingga saat ini, ulama tampaknya tidak dapat menyepakati secara pasti pengertiannya. Wacana ini berawal dari pernyataan Allah sendiri bahwa ayat-ayat Al-Quran itu muhkamât, dan sebagian lagi mutasyâbihat (QS Âli ‘Imran [3]: 7). Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan dan Al-Suyuthi dalam Al-Itqan misalnya membahas ‘Ilm Al-Mutasyabih, tetapi kajiannya terbatas pada fashilat atau ayat-ayat penutup yang berbeda-beda padahal kisah yang diuraikan sama. Perbedaan makna mutasyâbihat, misalnya juga sangat mencolok bagi mufasir dan ulama Ushul Fiqih. Bagi kebanyakan ahli Ushul Fiqih, makna ayat-ayat mutasyâbihat sering dipadankan dengan makna ayat yang sifatnya tidak qath‘i. Dari perbedaan kecil ini, cakupan makna mutasyâbihat dapat lebih diminimalisasi menjadi ayat-ayat yang samar (tidak qath‘i) maknanya.
Apa pun makna di balik kedua istilah ini, yang terpenting dari semuanya adalah sebuah pesan, bahwa setiap penafsir mesti berhati-hati, mengingat Allah tidak menentukan mana yang muhkamât dan mana yang mutasyâbihat. Kondisi ini meniscayakan bahwa sebuah ayat dapat saja muhkamât bagi sekelompok ulama, dan mutasyâbihat bagi ulama lainnya, atau sebaliknya. Selain itu, ayat-ayat mutasyâbihat juga ingin menunjukkan kelemahan dan keterbatasan pengetahuan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Wa ma utitum min al-‘ilmillaqalila ….
Sebelum pesan baca dulu http://www.mantapmart.id/p/cara-berlangganan.html biar gk ada miskom y :)











0 komentar:
Posting Komentar