Harga BUKU IMPOR adalah harga kurs/shipping cost saat pasang, dapat berubah tanpa pemberitahuan.
Harga Produk selain Buku dibawah Rp20,000 minimal pemesanan 2 pcs y :)
![]() |
|
Sinopsis:
Sesungguhnya Suluk Tambangraras namaku. Suluk adalah “suara meninggi” dalam pewayangan, tetapi ia juga mengacu pada semua sastra gaib Jawa kurun Islam. Adapun Tambangraras, ia istri Amongraga, si tokoh utama. Namun orang lebih umum menyebutku Serat Centhini.
Tahun 1814. Di Keraton Surakarta, Pangeran Anom Hamengkunegara III memerintahkan ketiga pujangga Keraton agar mereka menyusun Serat Centhini, yang berisi cerita-cerita lama tentang ilmu-ilmu alam dan gaib Jawa.
Serat Centhini menembangkan kembara Amongraga, pangeran muda yang terpaksa kabur meninggalkan Kerajaan Giri, setelah kerajaan Islam itu diserbu oleh Sultan Agung pada awal abad ke-17. Dalam perjalanan spiritualnya, Amongraga bertemu berbagai macam manusia: pedagang keliling, para penembang, penggamel, ledek, banci, sastrawan sufi, pelacur, petapa Buddha-Siwa, pandai besi, dukun, guru kanuragan, kecu, segala orang bebas, pelarian atau paria yang, di luar kekuasaan, menenun serta mengutakutik jaring khayal syahwat dan roh Tanah Jawa.
Elizabeth D. Inandiak menggali dan merangkai kembali mutiara-mutiara yang tersebar dalam serat setebal 4.200 halaman itu. Membiarkan dirinya lenyap di antara gelombang tembang, Elizabeth menghidupkan kembali suara-suara lirih Serat Centhini yang telah aus bersama memudarnya bahasa Jawa.
Tahun 1814. Di Keraton Surakarta, Pangeran Anom Hamengkunegara III memerintahkan ketiga pujangga Keraton agar mereka menyusun Serat Centhini, yang berisi cerita-cerita lama tentang ilmu-ilmu alam dan gaib Jawa.
Serat Centhini menembangkan kembara Amongraga, pangeran muda yang terpaksa kabur meninggalkan Kerajaan Giri, setelah kerajaan Islam itu diserbu oleh Sultan Agung pada awal abad ke-17. Dalam perjalanan spiritualnya, Amongraga bertemu berbagai macam manusia: pedagang keliling, para penembang, penggamel, ledek, banci, sastrawan sufi, pelacur, petapa Buddha-Siwa, pandai besi, dukun, guru kanuragan, kecu, segala orang bebas, pelarian atau paria yang, di luar kekuasaan, menenun serta mengutakutik jaring khayal syahwat dan roh Tanah Jawa.
Elizabeth D. Inandiak menggali dan merangkai kembali mutiara-mutiara yang tersebar dalam serat setebal 4.200 halaman itu. Membiarkan dirinya lenyap di antara gelombang tembang, Elizabeth menghidupkan kembali suara-suara lirih Serat Centhini yang telah aus bersama memudarnya bahasa Jawa.
Sebelum pesan baca dulu http://www.mantapmart.id/p/cara-berlangganan.html biar gk ada miskom y :)











0 komentar:
Posting Komentar