Harga BUKU IMPOR adalah harga kurs/shipping cost saat pasang, dapat berubah tanpa pemberitahuan.
Harga Produk selain Buku dibawah Rp20,000 minimal pemesanan 2 pcs y :)
|
Sinopsis:
Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orag berusaha membangunkannya.
"Whatever he chooses to write will be well worth reading."
—Jon Fasman, The New York Times
"Wrapped in a Chinese kung fu-styled novel and almost as brutal and dark as Chuck Palahniuk's Fight Club, Eka has maintained his place on the frontlines of Indonesian writers."
— Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post
"Dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka menulis dengan semangat bermain-main yang cerdik dan lihai."
— Anton Kurnia, Jawa Pos
"Eka piawai menyisipkan makna yang tertebar di sana-sini."
— Heri CS, Suara merdeka
"Seperti dua novel Eka sebelumnya, novel ini dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang 'tidak waras'. Ketidakwarasan tokoh-tokohya, di luar motif hasrat seks yang menggerakkan mereka, juga menjadi cermin dari ketidakwarasan zamannya."
— Aris Kurniawan, Koran Tempo
"Dialog dengan 'kemaluan' jadi ruang permenungan, melahirkan keyakinan-keyakinan tak biasa."
— Widyanuari Eko Putra, Kompas
"Whatever he chooses to write will be well worth reading."
—Jon Fasman, The New York Times
"Wrapped in a Chinese kung fu-styled novel and almost as brutal and dark as Chuck Palahniuk's Fight Club, Eka has maintained his place on the frontlines of Indonesian writers."
— Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post
"Dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka menulis dengan semangat bermain-main yang cerdik dan lihai."
— Anton Kurnia, Jawa Pos
"Eka piawai menyisipkan makna yang tertebar di sana-sini."
— Heri CS, Suara merdeka
"Seperti dua novel Eka sebelumnya, novel ini dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang 'tidak waras'. Ketidakwarasan tokoh-tokohya, di luar motif hasrat seks yang menggerakkan mereka, juga menjadi cermin dari ketidakwarasan zamannya."
— Aris Kurniawan, Koran Tempo
"Dialog dengan 'kemaluan' jadi ruang permenungan, melahirkan keyakinan-keyakinan tak biasa."
— Widyanuari Eko Putra, Kompas
Sebelum pesan baca dulu http://www.mantapmart.id/p/cara-berlangganan.html biar gk ada miskom y :)










0 komentar:
Posting Komentar